Tekno dan Fotografi

Post Top Ad

Post Top Ad

Saturday, February 27, 2016

Dibalik Foto Makro: Serangga

Foto makro capung

Memotret merupakan seni melihat dan memotong (crop). Kejelian mata terhadap objek dan realita menjadi salah satu bekal yang harus dimiliki oleh seorang fotografer. Dari sekian banyaknya objek untuk dipotret, seorang fotografer juga harus bisa mengisolasi objek-objek dan memilih objek untuk dipotret.

Mencermati objek-objek kecil seperti serangga, bunga, embun dan lain-lain, dapat melatih kejelian mata untuk melihat sebuah realita dari banyaknya objek. Dengan mencermati objek kecil, kita bisa merasakan bagaimana kehidupan dalam versi mini.


Foto Makro kupu-kupu
Makro kupu-kupu di Cisaat, Cirebon.

Mengenai foto makro, saya lebih tertarik pada foto hewan kecil seperti serangga. Hal yang membuat saya tertarik memotret serangga ialah kesulitan dan tantangan ketika di lapangan. Selain karena sulit diatur, faktor kondisi juga kadang memberikan tantangan. Karena tidak seperti hewan peliharaan, hewan liar cenderung agresif dan menghindar ketika didekati. Butuh usaha keras supaya mereka merasa nyaman dan tenang ketika dipotret.

Foto Makro serangga kecil
Makro serangga diatas bunga.

Terkadang saya harus mengikuti kemana arah hewan tersebut pergi, menunggunya untuk diam, dan perlahan-lahan memotretnya. Kendala seperti itulah yang membuat saya merasa tertantang untuk bisa memotretnya. Saya turut membayangkan bagaimana para fotografer National Geographic Wild ketika memotret satwa liar di hutan, savana bahkan di dalam laut. Pasti lebih menyusahkan.

Foto Makro belalang
Foto makro belalang yang seperti sedang termenung di Situ Cikuda, Majalengka.

Memotret serangga juga tergantung pada cuaca. Jika cuaca mendung maka tone warna atau pencahayaan yang di dapat tidak akan begitu bagus. Sehingga berpengaruh kepada hasil. Belum lagi jika cuacanya sedang berangin. Hasilnya akan tampak blurry karena objek yang bergoyang tertiup angin. Kecuali jika kamera yang digunakan sudah memiliki fitur OIS atau dapat diatur kecepatan rananya.

Foto makro sayap kupu-kupu
Foto makro kupu-kupu di depan rumah.

Untuk mensiasati kekurangan tersebut, terkadang saya mengolahnya pasca pemotretan menggunakan software editor. Saya terbiasa menggunakan Adobe Lightroom karena lebih mudah dioperasikan dan hasil warnanya yang lebih mencolok.

Intinya dalam memotret hewan liar, dibutuhkan kesabaran lebih dibandingkan dengan memotret lanskap atau model. Kadang kita tidak bisa mengatur posisi hewan tersebut layaknya seorang model yang mau mengikuti arahan fotografer.

Supaya bisa mengkreasi posisi serangga yang akan dipotret, saya menangkapnya terlebih dahulu untuk membuatnya merasa tenang dan mudah untuk diatur. Namun jangan lupa, setelah selesai memotret lepaskan kembali hewan tersebut ke habitatnya. Semoga bisa membantu.

*Semua hasil foto dapat dilihat juga di akun Instagram @fauzi_prima